12 Oktober 2008

Kehinaan...

Dear Prudence,
Lama aku coba tuk tidak ungkapkan lagi isi hatiku, tetapi hari ini, aku sudah tidak dapat lagi bertahan untuk ungkapkan semua perasaanku.

Dear Prudence,
Aku benar-benar tidak bisa percaya terhadap apa yang dia lakukan. Aku benar-benar tidak bisa percaya setega itukah dia, sebenci itukah dia, begitu percayanyakah dia dengan semua ucapan orang? Aku benar-benar tidak percaya dan tidak mengerti apa sebenarnya yang menjadi landasan pemikirannya untuk berbuat seperti itu?

Dear Prudence,
Tidakkah dia sadar bahwa apa yang dia lakukan akan memberikan dampak yang sangat besar, bukan saja kepada diriku, tetapi juga kepada orang lain yang sama sekali tidak bersalah? Bukankan aku sudah mengatakan dan memohon dengan jujur "Demi Allah, untuk kebaikan orang yang akan menerima dampak tersebut" bukan untuk kebaikanku. Tidakkah dia memahami bahwa apa yang dia lakukan akan sangat berdampak negatif pada kehidupan orang-orang disekitarku dalam jangka waktu yang sangat lama?

Ya Allah, demikian kayakah dia sehingga boleh rendahkan hamba?
Ya Allah, demikian sombongkah dia sehingga boleh berlaku pongah pada hamba?
Ya Allah, demikian benarkah dia sehingga boleh tuduhkan sesuka hatinya?

05 Agustus 2008

Secercah harapan

Dear,
Aku benar-benar tidak dapat kuasai hatiku. Kekecewaan dan kenyataan yang harus aku hadapi seharusnya membuatku bisa secara perlahan terima kenyataan bahwa aku bukanlah yang diharapkan, bahwa aku bukanlah pilihan. Seharusnya aku harus membangun kesadaran diri dan perlahan energi yang digunakan untuk terus berharap bisa aku alihkan ke dalam bentuk lainnya. Tapi dear, kesadaran hati ini bahwa masih ada secercah harapan terus tumbuh dalam hatiku.

Dear,
Aku belum terbiasa dengan perubahan yang demikian cepatnya yang menghunjam hatiku sehingga tanpa sadar aku masih terus diliputi kekecewaan, kepedihan, kecemburuan bahkan perasaan yang menyakitkan karena tidak pernah aku berpikir untuk mempersiapkan hati ini terhadap semua kejadian. Aku selalu dijejali dengan kejutan-kejutan yang membuat hati ini terus terombang-ambing dalam kegelapan. Terkadang ada secercah sinar harapan walaupun demikian kecilnya berkas sinar itu, aku masih dapat sinarnya.

Dear,
terkadang aku ingin pintu harapan itu benar-benar tertutup rapat sehingga tidak perlu aku melihat sinar harapan yang memancar dari sela-selanya. Terkadang aku selalu mencari dimana ada sela yang dapat memberikan sedikit bias cahaya karena hati ini selalu dan selalu menginginkan harapan itu.

Dear, aku sedih...
begitu sedihnya karena aku bukan pilihan
karena aku tidak benar-benar dibutuhkan.

29 Juli 2008

Aku bukan siapa-siapa

Dear Prudence,
Kesedihan, kekecewaan dan kerinduan yang menyesakkan dadaku membuatku kembali menghubunginya... dan dear... aku senang dan bahagia sekali ketika kerinduan itu bersambut. Dear Prudence, tahukah engkau, betapa suka citanya aku saat itu dan kebahagiaanku membuatku lupa bahwa ternyata aku bukan siapa-siapa buatnya dan aku tidak bisa untuk berbuat apa-apa untuk dan terhadapnya.

Dear Prudence,
Aku terus berusaha sadarkan diriku bahwa aku bukan siapa-siapa dan coba redam semua kecemburuan yang timbul, coba redam dan matikan semua harapan yang tidak pernah bisa aku padamkan dan coba kubur dalam-dalam semua perasaan, cinta, kasih sayang, hasrat dan keinginanku kepadanya. Aku berharap dia dapat memberikan kesejukan padaku dengan sedikit perhatian, dengan kata-kata yang tidak menyakitkan... tapi dear... aku hanya bisa berharap dan berharap untuk semua itu.

Dear Prudence,
Masih adakah cinta murni atau cinta tanpa syarat di zaman yang materialistik dan hedonistik ini? Mestikah aku menderita karena semua ini? Haruskah aku menghiba mengharapkannya?
Apakah salah jika apa yang aku rasakan ini adalah Unconditional Love? An unlimited way of being? Salahkah?. Bukankah mencintai tanpa syarat adalah kekuatan terbesar yang ada pada manusia?
Apakah kecintaan itu harus didapat berdasarkan kondisi-kondisi sadar maupun tidak sadar yang dapat dipenuhi oleh sang kekasih?

Dear Prudence... aku memang bukan siapa-siapa dan aku tidak bisa apa-apa.

21 Juli 2008

To all the girls I've loved before

To all the girls I've loved before
Who travelled in and out my door
I'm glad they came along, I dedicate this song
To all the girls I've loved before

To all the girls I once caressed
And may I say I've held the best
For helping me to grow, I owe all that I know
To all the girls I've loved before

The winds of change are always blowing
And everytime I try to stay
The winds of change continue blowing
And they just carry me away

To all the girls who shared my life
Who now are someone else's wives
I'm glad they came along, I dedicate this song
To all the girls I've loved before

To all the girls who cared for me
Who filled my nights with ecstasy
They live within my heart, I've always been a part
Of all the girls I've loved before

The winds of change are always blowing
And everytime I try to stay
The winds of change continue blowing
And they just carry me away

To all the girls I've loved before
Who travelled in and out my door
I'm glad they came along, I dedicate this song
To all the girls I've loved before

To all the girls I've loved before
Who travelled in and out my door
I'm glad they came along, I dedicate this song
To all the girls I've loved
I've loved

[Engelbert Humperdinck, PS: Remember I Love You]

Luruh

Dear prudence, kecintaannya telah luruh, kasih sayangnya telah luruh dan semua apa yang aku inginkan darinya telah ia luruhkan dengan sendirinya. Dear, semua pernyataannya tentang pandangannya terhadapku benar-benar membuatku tidak mampu berbuat apa-apa selain redakan hati yang tidak menentu antara kesedihan, kekecewaan, kepedihan, kemarahan dan perasaan terabaikan. Dear, keadaan semakin membuatku terperosok ke lembah kedukaan dan kesedihan yang dalam karena tidak satu halpun yang dapat aku perbuat untuk merubah semuanya. Dear, aku benar-benar terjatuh dan tidak ada sesuatu yang dapat aku pegang agar aku tidak terhempas ke dasar lembah yang begitu dalamnya.

Dear prudence, aku tidak bisa benar-benar membencinya agar aku bisa benar-benar matikan semua harapan yang tidak pernah mati dihatiku. Dear, aku ingin bisa ungkapkan semua perasaanku dengan segenap kebencian, tetapi aku tidak mampu karena aku begitu mencintainya, begitu menyayangi dan begitu berharap bahwa akulah satu-satunya yang terbaik buat dirinya. Dear prudence, keadaan seperti itu yang semakin menyakitkan hati ini. Aku ingin pura-pura ikhlas, tetapi aku tahu, itu hanya membohongi diri sendiri, karena aku sendiri tidak bisa benar-benar ikhlas matikan semua harapan dan tujuan yang ingin aku gapai bersamanya.

Dear prudence, aku inginkan kesadaran bahwa dia bukan untukku, aku ingin kesadaran bahwa dia tidak inginkanku, aku ingin kesadaran bahwa dia tidak mungkin menjadi milikku. Dear prudence... aku perlukan keyakinan bahwa dia selalu jujur padaku, bahwa dia tidak pernah sedikitpun permainkan hatiku, bahwa dia benar-benar inginkan aku, bahwa apa yang dipilihnya hanya untuk kebahagiaan dirinya, tidak untukku.

30 Juni 2008

Patah Arang

Dear, Aku benar-benar terpuruk... sedih, kecewa, terabaikan. Dear, aku tahu bahwa tidak mungkin bisa arungi bahtera dengan perahu yang telah retak dan terbelah. Aku tahu tidak mungkin bisa arungi bahtera dengan dua tujuan yang berbeda. Dear, aku juga tahu bahwa aku harus selamatkan isi perahu itu.
Dear prudence. Bijaksanalah padaku.

Dear, aku seperti melayang tanpa pijakan, napasku sesak tahankan semua yang menggumpal didada. Dear prudence, memang haknya untuk tidak mau mengerti keadaanku, memang haknya untuk tidak perduli dengan aku. Semua masalahku, semua masalah bahteraku, semua masalahku dan tidak ada kaitannya dengan dirinya. Tapi dear,... dengannya aku begitu penuh semangat, aku benar-benar merasakan hidup bersamanya, dengannya banyak hal yang ingin dan dapat kulakukan. Aku begitu yakin dengannya aku bisa arungi bahtera dengan penuh keyakinan tuk sampai pada tujuan bersama.

Dear, aku benar-benar terpuruk... sedih, kecewa dan terabaikan. Dear, aku tahu kepedihan hati ini semua karena akibat kecintaanku padanya.. aku sadar bahwa sakitnya bathin ini juga karena kecintaanku padanya... dan aku juga harus sadari bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap hatinya, keinginannya... seperti halnya seseorang tidak bisa ubah kecintaanku padanya karena seseorang itu tahu hatiku padanya.

Dear, teruslah dengar kepedihanku karena dia tidak ingin dengarkan lagi kepedihanku, karena dia tidak inginkan aku, karena dia tidak butuhkan aku lagi. Dear, aku aku benar-benar terabaikan, tidak berarti... karena ternyata dia lebih bahagia tanpaku, dia bisa bahagia tanpaku dan dia sangat bersyukur karena aku tidak ada lagi disisinya. Dear... betapa sakit, kecewa, pedih ketika aku tahu kata-kata untukku... sedemikian tidak berartikah aku?

Dear prudence, bijaksanalah padaku.

29 Juni 2008

Fatal

Dear, aku telah melakukan kesalahan yang fatal, kesalahan yang membuatnya menutup telepon, kesalahan yang membuatnya tidak mau terima telepon dariku. Kesalahan itu juga mungkin membuatnya menjadi tidak tenang. Sungguh dear, aku tidak menyadari sebelumnya. Aku berani lakukan semua itu karena jauh sebelum ini aku pernah ungkapkan padanya. Dear, mungkin aku salah pengertian atau salah menanggapinya saat itu.

Dear, apakah dia dapat mengerti betapa ada seseorang ingin mengetahui kenapa aku bisa berbuat lebih untuknya? Apakah dia dapat mengerti bahwa seseorang itu ingin mengetahui semua hal yang pernah aku lakukan dan dia lalukan untukku atau seseorang itu ingin mengetahui apa saja yang menjadi alasanku sehingga aku bisa dan mampu melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa aku lakukan pada seseorang itu?

Dear, demikian ingin mengetahuinya, tanpa sepengetahuanku seseorang itu melakukan hal yang pernah dia lakukan untukku... dia bawa semua pakaianku ke laundry seperti yang pernah dia lakukan untukku... dan nota tertanggal 28-06-2008 inipun dibuat atas namanya... bahkan kenapa aku begitu menyukai masakan yang menjadi kesukaanku... diapun ingin mengetahuinya..

Dear, aku tidak ingin menyakiti seseorang itu, tetapi keinginan seseorang itu begitu kuat dan benar-benar ingin meyakinkan dirinya sendiri. Dear, aku tidak mampu halangi seseorang tersebut, dan aku tidak mapu tutupi hatiku betapa aku memang mencintainya. Aku tahu, hati seseorang akan tersakiti, tetapi aku dan seseorang tersebut sadar, bahwa kecintaan bukan suatu yang bisa dipaksakan... bahwa aku dan seseorang tersebut sadar bahwa kecintaan terus akan tumbuh atau mati semua hanya bisa dilakukan oleh hati sendiri, oleh diri sendiri bukan oleh siapa-siapa. Dan aku dengan seseorang tersebut sadar bahwa kecintaanku padanya itu tidak pudar, seseorang itu tahu bahwa jiwaku, hatiku dan semua spiritku... ada bersamanya... ada untuknya... ada padanya.

Dear prudence. Bijaksanalah padaku.

21 Mei 2008

Sesak

Dear Prudence,
Dadaku benar-benar sesak... semua yang telah terjadi, baik duka, suka, kekesalan, penghinaan, dekapan, kasih sayang... semua terus mengalir dalam benakku. Aku ingin bisa tidur nyenyak, tetapi pikiranku terus bekerja, anganku terus mengembara. Di satu sisi hati terus selalu dan selalu ingin bersamanya, terus mencintainya, terus berharap... disisi lain kepedihan, perlakuan dan hal-hal yang membuatku terpuruk selalu hadir pada saat yang bersamaan.

Dear Prudence,
Aku selalu berusaha tanamkan pada diriku bahwa dia bukan orang yang aku kenal dulu, bukan orang yang bisa membuatku berarti... tanamkan bahwa dia bukan orang yang bisa redam semua kegundahan, keresahan dan kehampaan hati ini... tapi hati kecil ini tidak bisa dibohongi... aku terus mengharapkannya, aku terus mencintainya... aku ingin selalu bersamanya.. walaupun aku hal yang sama kembali terjadi... ketika hati ini berbunga...ketika itu dia akan sakiti lagi...

Dear Prudence,
Bijaksanalah padaku.... aku tidak ingin terulang kembali. Sakit rasanya... ketika dengan sepenuh hati aku mencintainya... dan ketika itu pula aku disingkirkan, dicemoohkan... tak diinginkan... ketika dengan segenap kemesraan aku berikan padanya... dan seketika itu pula keketusan aku terima...

Dear Prudence
Bijaksanalah...

19 Mei 2008

Betapa egonya...

Dear Prudence,
kau tahu betapa sakitnya.... ketika aku ingin membantunya, tetapi tiba saatnya bantuan itu belum bisa aku tuntaskan... ketika itu juga aku dituduh tidak mau membantu... dan ketika itu juga selalu diakhiri dengan nada "ya sudah kalau tidak mau bantu, yang lain juga ada..." atau... "kalau tau begini....!" Dear Prudence, dapatkah kau rasakan kepedihan dalam diamku saat aku terima nada-nada seperti itu?

Dear Prudence, dia benar-benar telah berubah... dan aku hanya bisa luahkan segenap persaanku padamu. Dear Prudence, help me through the days...

Sisa waktumu...

Dear Prudence,
Aku benar-benar telah kehilangan dia... tak mungkin kuraih kembali dan tak mungkin dia kembali. Dia benar-benar tidak membutuhkan aku... dari ucapannya, di satu sisi dia nampak membutuhkan aku tetapi di sisi lain aku sudah tidak memiliki arti lagi. Terbukti bisa atau tidak aku membantunya...it's ok... dan ternyata seperti yang sudah-sudah... aku hanya sambilan... tidak pernah ada waktu khusus untukku... semua bisa terjadi kalau masih ada sisa waktunya....

Dear Prudence,
Tahukah kau betapa pedih rasanya menjadi tidak berarti?!

18 Mei 2008

Jika butuh...

Dear Prudence, aku mencintainya dan berusaha selalu ada untuk dirinya... butuh atau tidak. Dear Prudence, tahukah kau betapa sakitnya hati ini ketika dia mulai berubah...
Aku harus ada hanya jika dia membutuhkan... tidak perduli apakah aku butuh kehadirannya atau tidak... bahkah ketika dia perlu aku dan aku tidak ada dia dengan mudah berkata "gliran lg bner2 d butuhin g prnah ada.. skrg km tuch mmang g prnah ada wkt lg buat aq :(". Fakta itu diputar balikkan... ketika aku butuh dia, dia katakan tidak perlu lagi ketemu dengannya... tetapi ketika dia perlu aku... itulah ucapannya.

Dear prudence, tahukah betapa sakitnya hati ini... ketika dengan penuh kecintaan aku datang, penuhi harapannya... tetapi seperti yang sudah-sudah... kekecewaan yang selalu kuterima...

Dear Prudence, please make me smile...

16 Mei 2008

Happy family?!

Dear Prudence,
Ku berharap dapat bina keluarga dengannya, lakukan semua yang seharusnya kami lakukan, lakukan semua yang belum kami lakukan, gantikan semua yang tidak seharusnya kami lakukan. Tapi dear, aku telah kehilangan dia...

Tapi dear...

Dear prudence,
Aku tahu aku mencintainya, aku tahu aku sayang padanya karena aku tahu hatiku sendiri. Kucintai dia, kusayangi dia dengan sepenuh hatiku. Kecintaan itu terus tumbuh, kasih sayang itu terus mengalir padanya. Tapi dear, aku telah kehilangan dia...

Dear prudence,
Kecintaanku padanya, kasih sayangku padanya, membuat aku berarti, menumbuhkan harapan baru. Keinginan, harapan, cita-cita dan segala hal yang ingin kucapai satu persatu mengental dan mengkristal dihatiku membangkitkan semangat baru. Tapi dear, aku telah kehilangan dia...