Dear, Aku benar-benar terpuruk... sedih, kecewa, terabaikan. Dear, aku tahu bahwa tidak mungkin bisa arungi bahtera dengan perahu yang telah retak dan terbelah. Aku tahu tidak mungkin bisa arungi bahtera dengan dua tujuan yang berbeda. Dear, aku juga tahu bahwa aku harus selamatkan isi perahu itu.
Dear prudence. Bijaksanalah padaku.
Dear, aku seperti melayang tanpa pijakan, napasku sesak tahankan semua yang menggumpal didada. Dear prudence, memang haknya untuk tidak mau mengerti keadaanku, memang haknya untuk tidak perduli dengan aku. Semua masalahku, semua masalah bahteraku, semua masalahku dan tidak ada kaitannya dengan dirinya. Tapi dear,... dengannya aku begitu penuh semangat, aku benar-benar merasakan hidup bersamanya, dengannya banyak hal yang ingin dan dapat kulakukan. Aku begitu yakin dengannya aku bisa arungi bahtera dengan penuh keyakinan tuk sampai pada tujuan bersama.
Dear, aku benar-benar terpuruk... sedih, kecewa dan terabaikan. Dear, aku tahu kepedihan hati ini semua karena akibat kecintaanku padanya.. aku sadar bahwa sakitnya bathin ini juga karena kecintaanku padanya... dan aku juga harus sadari bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap hatinya, keinginannya... seperti halnya seseorang tidak bisa ubah kecintaanku padanya karena seseorang itu tahu hatiku padanya.
Dear, teruslah dengar kepedihanku karena dia tidak ingin dengarkan lagi kepedihanku, karena dia tidak inginkan aku, karena dia tidak butuhkan aku lagi. Dear, aku aku benar-benar terabaikan, tidak berarti... karena ternyata dia lebih bahagia tanpaku, dia bisa bahagia tanpaku dan dia sangat bersyukur karena aku tidak ada lagi disisinya. Dear... betapa sakit, kecewa, pedih ketika aku tahu kata-kata untukku... sedemikian tidak berartikah aku?
Dear prudence, bijaksanalah padaku.