Dear Prudence,
Setelah sekian lama aku coba diamkan segenap perasaan, semua kedukaan, dan semua kegundahan karena dia tinggalkan aku, kini kami bertemu dan bersatu kembali. Sungguh, tidak aku pungkiri, mungkin ini adalah sebagai kecil dari do'aku yang Allah kabulkan untukku. Aku sangat bersyukur kembali. Dalam aku bersyukur, aku berusaha menerima apapun yang akan dan harus terjadi.
Dear Prudence,
Tahukah engkau bahwa aku sangat begitu bahagia ketika kami sadari bahwa kecintaan yang ada diantara kami selama ini adalah suatu yang real, sesuatu yang begitu sangat berarti dan telah kami lalui dengan beberapa tahapan yang justru semakin mendewasakan kecintaan itu sendiri?
Tapi dear,
Pertemuan ini juga membuatku semakin hari semakin terus berharap bahwa akhir dari semua proses yang harus kami lalui dapat segera kami capai. Pertemuan ini juga membuatku kembali seperti halnya punuk merindukan bulan. Pertemuan ini juga membuatku tidak selalu bisa untuk redamkan semua keinginan dalam kebersamaan, tidak selalu bisa redamkan wujudkan kecintaan, tidak bisa selalu bisa redamkan keinginan untuk aktualkan semua hal yang disebabkan oleh kecintaan itu... seperti yang sudah aku lakukan, redam semua dalam diamku.
Dear Prudence,
Aku mencintai dan aku dicintai. Aku inginkan semua proses dalam mencintai, aku inginkan semua proses dalam dicintai...
Dear Prudence, redakan hati ini.
29 Mei 2009
12 Oktober 2008
Kehinaan...
Dear Prudence,
Lama aku coba tuk tidak ungkapkan lagi isi hatiku, tetapi hari ini, aku sudah tidak dapat lagi bertahan untuk ungkapkan semua perasaanku.
Dear Prudence,
Aku benar-benar tidak bisa percaya terhadap apa yang dia lakukan. Aku benar-benar tidak bisa percaya setega itukah dia, sebenci itukah dia, begitu percayanyakah dia dengan semua ucapan orang? Aku benar-benar tidak percaya dan tidak mengerti apa sebenarnya yang menjadi landasan pemikirannya untuk berbuat seperti itu?
Dear Prudence,
Tidakkah dia sadar bahwa apa yang dia lakukan akan memberikan dampak yang sangat besar, bukan saja kepada diriku, tetapi juga kepada orang lain yang sama sekali tidak bersalah? Bukankan aku sudah mengatakan dan memohon dengan jujur "Demi Allah, untuk kebaikan orang yang akan menerima dampak tersebut" bukan untuk kebaikanku. Tidakkah dia memahami bahwa apa yang dia lakukan akan sangat berdampak negatif pada kehidupan orang-orang disekitarku dalam jangka waktu yang sangat lama?
Ya Allah, demikian kayakah dia sehingga boleh rendahkan hamba?
Ya Allah, demikian sombongkah dia sehingga boleh berlaku pongah pada hamba?
Ya Allah, demikian benarkah dia sehingga boleh tuduhkan sesuka hatinya?
Lama aku coba tuk tidak ungkapkan lagi isi hatiku, tetapi hari ini, aku sudah tidak dapat lagi bertahan untuk ungkapkan semua perasaanku.
Dear Prudence,
Aku benar-benar tidak bisa percaya terhadap apa yang dia lakukan. Aku benar-benar tidak bisa percaya setega itukah dia, sebenci itukah dia, begitu percayanyakah dia dengan semua ucapan orang? Aku benar-benar tidak percaya dan tidak mengerti apa sebenarnya yang menjadi landasan pemikirannya untuk berbuat seperti itu?
Dear Prudence,
Tidakkah dia sadar bahwa apa yang dia lakukan akan memberikan dampak yang sangat besar, bukan saja kepada diriku, tetapi juga kepada orang lain yang sama sekali tidak bersalah? Bukankan aku sudah mengatakan dan memohon dengan jujur "Demi Allah, untuk kebaikan orang yang akan menerima dampak tersebut" bukan untuk kebaikanku. Tidakkah dia memahami bahwa apa yang dia lakukan akan sangat berdampak negatif pada kehidupan orang-orang disekitarku dalam jangka waktu yang sangat lama?
Ya Allah, demikian kayakah dia sehingga boleh rendahkan hamba?
Ya Allah, demikian sombongkah dia sehingga boleh berlaku pongah pada hamba?
Ya Allah, demikian benarkah dia sehingga boleh tuduhkan sesuka hatinya?
Langganan:
Postingan (Atom)