05 Agustus 2008

Secercah harapan

Dear,
Aku benar-benar tidak dapat kuasai hatiku. Kekecewaan dan kenyataan yang harus aku hadapi seharusnya membuatku bisa secara perlahan terima kenyataan bahwa aku bukanlah yang diharapkan, bahwa aku bukanlah pilihan. Seharusnya aku harus membangun kesadaran diri dan perlahan energi yang digunakan untuk terus berharap bisa aku alihkan ke dalam bentuk lainnya. Tapi dear, kesadaran hati ini bahwa masih ada secercah harapan terus tumbuh dalam hatiku.

Dear,
Aku belum terbiasa dengan perubahan yang demikian cepatnya yang menghunjam hatiku sehingga tanpa sadar aku masih terus diliputi kekecewaan, kepedihan, kecemburuan bahkan perasaan yang menyakitkan karena tidak pernah aku berpikir untuk mempersiapkan hati ini terhadap semua kejadian. Aku selalu dijejali dengan kejutan-kejutan yang membuat hati ini terus terombang-ambing dalam kegelapan. Terkadang ada secercah sinar harapan walaupun demikian kecilnya berkas sinar itu, aku masih dapat sinarnya.

Dear,
terkadang aku ingin pintu harapan itu benar-benar tertutup rapat sehingga tidak perlu aku melihat sinar harapan yang memancar dari sela-selanya. Terkadang aku selalu mencari dimana ada sela yang dapat memberikan sedikit bias cahaya karena hati ini selalu dan selalu menginginkan harapan itu.

Dear, aku sedih...
begitu sedihnya karena aku bukan pilihan
karena aku tidak benar-benar dibutuhkan.