Dear Prudence,
Dadaku benar-benar sesak... semua yang telah terjadi, baik duka, suka, kekesalan, penghinaan, dekapan, kasih sayang... semua terus mengalir dalam benakku. Aku ingin bisa tidur nyenyak, tetapi pikiranku terus bekerja, anganku terus mengembara. Di satu sisi hati terus selalu dan selalu ingin bersamanya, terus mencintainya, terus berharap... disisi lain kepedihan, perlakuan dan hal-hal yang membuatku terpuruk selalu hadir pada saat yang bersamaan.
Dear Prudence,
Aku selalu berusaha tanamkan pada diriku bahwa dia bukan orang yang aku kenal dulu, bukan orang yang bisa membuatku berarti... tanamkan bahwa dia bukan orang yang bisa redam semua kegundahan, keresahan dan kehampaan hati ini... tapi hati kecil ini tidak bisa dibohongi... aku terus mengharapkannya, aku terus mencintainya... aku ingin selalu bersamanya.. walaupun aku hal yang sama kembali terjadi... ketika hati ini berbunga...ketika itu dia akan sakiti lagi...
Dear Prudence,
Bijaksanalah padaku.... aku tidak ingin terulang kembali. Sakit rasanya... ketika dengan sepenuh hati aku mencintainya... dan ketika itu pula aku disingkirkan, dicemoohkan... tak diinginkan... ketika dengan segenap kemesraan aku berikan padanya... dan seketika itu pula keketusan aku terima...
Dear Prudence
Bijaksanalah...
21 Mei 2008
19 Mei 2008
Betapa egonya...
Dear Prudence,
kau tahu betapa sakitnya.... ketika aku ingin membantunya, tetapi tiba saatnya bantuan itu belum bisa aku tuntaskan... ketika itu juga aku dituduh tidak mau membantu... dan ketika itu juga selalu diakhiri dengan nada "ya sudah kalau tidak mau bantu, yang lain juga ada..." atau... "kalau tau begini....!" Dear Prudence, dapatkah kau rasakan kepedihan dalam diamku saat aku terima nada-nada seperti itu?
Dear Prudence, dia benar-benar telah berubah... dan aku hanya bisa luahkan segenap persaanku padamu. Dear Prudence, help me through the days...
kau tahu betapa sakitnya.... ketika aku ingin membantunya, tetapi tiba saatnya bantuan itu belum bisa aku tuntaskan... ketika itu juga aku dituduh tidak mau membantu... dan ketika itu juga selalu diakhiri dengan nada "ya sudah kalau tidak mau bantu, yang lain juga ada..." atau... "kalau tau begini....!" Dear Prudence, dapatkah kau rasakan kepedihan dalam diamku saat aku terima nada-nada seperti itu?
Dear Prudence, dia benar-benar telah berubah... dan aku hanya bisa luahkan segenap persaanku padamu. Dear Prudence, help me through the days...
Sisa waktumu...
Dear Prudence,
Aku benar-benar telah kehilangan dia... tak mungkin kuraih kembali dan tak mungkin dia kembali. Dia benar-benar tidak membutuhkan aku... dari ucapannya, di satu sisi dia nampak membutuhkan aku tetapi di sisi lain aku sudah tidak memiliki arti lagi. Terbukti bisa atau tidak aku membantunya...it's ok... dan ternyata seperti yang sudah-sudah... aku hanya sambilan... tidak pernah ada waktu khusus untukku... semua bisa terjadi kalau masih ada sisa waktunya....
Dear Prudence,
Tahukah kau betapa pedih rasanya menjadi tidak berarti?!
Aku benar-benar telah kehilangan dia... tak mungkin kuraih kembali dan tak mungkin dia kembali. Dia benar-benar tidak membutuhkan aku... dari ucapannya, di satu sisi dia nampak membutuhkan aku tetapi di sisi lain aku sudah tidak memiliki arti lagi. Terbukti bisa atau tidak aku membantunya...it's ok... dan ternyata seperti yang sudah-sudah... aku hanya sambilan... tidak pernah ada waktu khusus untukku... semua bisa terjadi kalau masih ada sisa waktunya....
Dear Prudence,
Tahukah kau betapa pedih rasanya menjadi tidak berarti?!
18 Mei 2008
Jika butuh...
Dear Prudence, aku mencintainya dan berusaha selalu ada untuk dirinya... butuh atau tidak. Dear Prudence, tahukah kau betapa sakitnya hati ini ketika dia mulai berubah...
Aku harus ada hanya jika dia membutuhkan... tidak perduli apakah aku butuh kehadirannya atau tidak... bahkah ketika dia perlu aku dan aku tidak ada dia dengan mudah berkata "gliran lg bner2 d butuhin g prnah ada.. skrg km tuch mmang g prnah ada wkt lg buat aq :(". Fakta itu diputar balikkan... ketika aku butuh dia, dia katakan tidak perlu lagi ketemu dengannya... tetapi ketika dia perlu aku... itulah ucapannya.
Dear prudence, tahukah betapa sakitnya hati ini... ketika dengan penuh kecintaan aku datang, penuhi harapannya... tetapi seperti yang sudah-sudah... kekecewaan yang selalu kuterima...
Dear Prudence, please make me smile...
Aku harus ada hanya jika dia membutuhkan... tidak perduli apakah aku butuh kehadirannya atau tidak... bahkah ketika dia perlu aku dan aku tidak ada dia dengan mudah berkata "gliran lg bner2 d butuhin g prnah ada.. skrg km tuch mmang g prnah ada wkt lg buat aq :(". Fakta itu diputar balikkan... ketika aku butuh dia, dia katakan tidak perlu lagi ketemu dengannya... tetapi ketika dia perlu aku... itulah ucapannya.
Dear prudence, tahukah betapa sakitnya hati ini... ketika dengan penuh kecintaan aku datang, penuhi harapannya... tetapi seperti yang sudah-sudah... kekecewaan yang selalu kuterima...
Dear Prudence, please make me smile...
16 Mei 2008
Happy family?!
Dear Prudence,Ku berharap dapat bina keluarga dengannya, lakukan semua yang seharusnya kami lakukan, lakukan semua yang belum kami lakukan, gantikan semua yang tidak seharusnya kami lakukan. Tapi dear, aku telah kehilangan dia...
Tapi dear...
Dear prudence,
Aku tahu aku mencintainya, aku tahu aku sayang padanya karena aku tahu hatiku sendiri. Kucintai dia, kusayangi dia dengan sepenuh hatiku. Kecintaan itu terus tumbuh, kasih sayang itu terus mengalir padanya. Tapi dear, aku telah kehilangan dia...
Dear prudence,
Kecintaanku padanya, kasih sayangku padanya, membuat aku berarti, menumbuhkan harapan baru. Keinginan, harapan, cita-cita dan segala hal yang ingin kucapai satu persatu mengental dan mengkristal dihatiku membangkitkan semangat baru. Tapi dear, aku telah kehilangan dia...
Aku tahu aku mencintainya, aku tahu aku sayang padanya karena aku tahu hatiku sendiri. Kucintai dia, kusayangi dia dengan sepenuh hatiku. Kecintaan itu terus tumbuh, kasih sayang itu terus mengalir padanya. Tapi dear, aku telah kehilangan dia...
Dear prudence,
Kecintaanku padanya, kasih sayangku padanya, membuat aku berarti, menumbuhkan harapan baru. Keinginan, harapan, cita-cita dan segala hal yang ingin kucapai satu persatu mengental dan mengkristal dihatiku membangkitkan semangat baru. Tapi dear, aku telah kehilangan dia...
Langganan:
Postingan (Atom)