29 Mei 2009

Redakan hati ini

Dear Prudence,
Setelah sekian lama aku coba diamkan segenap perasaan, semua kedukaan, dan semua kegundahan karena dia tinggalkan aku, kini kami bertemu dan bersatu kembali. Sungguh, tidak aku pungkiri, mungkin ini adalah sebagai kecil dari do'aku yang Allah kabulkan untukku. Aku sangat bersyukur kembali. Dalam aku bersyukur, aku berusaha menerima apapun yang akan dan harus terjadi.

Dear Prudence,
Tahukah engkau bahwa aku sangat begitu bahagia ketika kami sadari bahwa kecintaan yang ada diantara kami selama ini adalah suatu yang real, sesuatu yang begitu sangat berarti dan telah kami lalui dengan beberapa tahapan yang justru semakin mendewasakan kecintaan itu sendiri?

Tapi dear,
Pertemuan ini juga membuatku semakin hari semakin terus berharap bahwa akhir dari semua proses yang harus kami lalui dapat segera kami capai. Pertemuan ini juga membuatku kembali seperti halnya punuk merindukan bulan. Pertemuan ini juga membuatku tidak selalu bisa untuk redamkan semua keinginan dalam kebersamaan, tidak selalu bisa redamkan wujudkan kecintaan, tidak bisa selalu bisa redamkan keinginan untuk aktualkan semua hal yang disebabkan oleh kecintaan itu... seperti yang sudah aku lakukan, redam semua dalam diamku.

Dear Prudence,
Aku mencintai dan aku dicintai. Aku inginkan semua proses dalam mencintai, aku inginkan semua proses dalam dicintai...

Dear Prudence, redakan hati ini.