Dear Prudence,
Dadaku benar-benar sesak... semua yang telah terjadi, baik duka, suka, kekesalan, penghinaan, dekapan, kasih sayang... semua terus mengalir dalam benakku. Aku ingin bisa tidur nyenyak, tetapi pikiranku terus bekerja, anganku terus mengembara. Di satu sisi hati terus selalu dan selalu ingin bersamanya, terus mencintainya, terus berharap... disisi lain kepedihan, perlakuan dan hal-hal yang membuatku terpuruk selalu hadir pada saat yang bersamaan.
Dear Prudence,
Aku selalu berusaha tanamkan pada diriku bahwa dia bukan orang yang aku kenal dulu, bukan orang yang bisa membuatku berarti... tanamkan bahwa dia bukan orang yang bisa redam semua kegundahan, keresahan dan kehampaan hati ini... tapi hati kecil ini tidak bisa dibohongi... aku terus mengharapkannya, aku terus mencintainya... aku ingin selalu bersamanya.. walaupun aku hal yang sama kembali terjadi... ketika hati ini berbunga...ketika itu dia akan sakiti lagi...
Dear Prudence,
Bijaksanalah padaku.... aku tidak ingin terulang kembali. Sakit rasanya... ketika dengan sepenuh hati aku mencintainya... dan ketika itu pula aku disingkirkan, dicemoohkan... tak diinginkan... ketika dengan segenap kemesraan aku berikan padanya... dan seketika itu pula keketusan aku terima...
Dear Prudence
Bijaksanalah...