Dear, aku telah melakukan kesalahan yang fatal, kesalahan yang membuatnya menutup telepon, kesalahan yang membuatnya tidak mau terima telepon dariku. Kesalahan itu juga mungkin membuatnya menjadi tidak tenang. Sungguh dear, aku tidak menyadari sebelumnya. Aku berani lakukan semua itu karena jauh sebelum ini aku pernah ungkapkan padanya. Dear, mungkin aku salah pengertian atau salah menanggapinya saat itu.
Dear, apakah dia dapat mengerti betapa ada seseorang ingin mengetahui kenapa aku bisa berbuat lebih untuknya? Apakah dia dapat mengerti bahwa seseorang itu ingin mengetahui semua hal yang pernah aku lakukan dan dia lalukan untukku atau seseorang itu ingin mengetahui apa saja yang menjadi alasanku sehingga aku bisa dan mampu melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa aku lakukan pada seseorang itu?
Dear, demikian ingin mengetahuinya, tanpa sepengetahuanku seseorang itu melakukan hal yang pernah dia lakukan untukku... dia bawa semua pakaianku ke laundry seperti yang pernah dia lakukan untukku... dan nota tertanggal 28-06-2008 inipun dibuat atas namanya... bahkan kenapa aku begitu menyukai masakan yang menjadi kesukaanku... diapun ingin mengetahuinya..
Dear, aku tidak ingin menyakiti seseorang itu, tetapi keinginan seseorang itu begitu kuat dan benar-benar ingin meyakinkan dirinya sendiri. Dear, aku tidak mampu halangi seseorang tersebut, dan aku tidak mapu tutupi hatiku betapa aku memang mencintainya. Aku tahu, hati seseorang akan tersakiti, tetapi aku dan seseorang tersebut sadar, bahwa kecintaan bukan suatu yang bisa dipaksakan... bahwa aku dan seseorang tersebut sadar bahwa kecintaan terus akan tumbuh atau mati semua hanya bisa dilakukan oleh hati sendiri, oleh diri sendiri bukan oleh siapa-siapa. Dan aku dengan seseorang tersebut sadar bahwa kecintaanku padanya itu tidak pudar, seseorang itu tahu bahwa jiwaku, hatiku dan semua spiritku... ada bersamanya... ada untuknya... ada padanya.
Dear prudence. Bijaksanalah padaku.