21 Juli 2008

Luruh

Dear prudence, kecintaannya telah luruh, kasih sayangnya telah luruh dan semua apa yang aku inginkan darinya telah ia luruhkan dengan sendirinya. Dear, semua pernyataannya tentang pandangannya terhadapku benar-benar membuatku tidak mampu berbuat apa-apa selain redakan hati yang tidak menentu antara kesedihan, kekecewaan, kepedihan, kemarahan dan perasaan terabaikan. Dear, keadaan semakin membuatku terperosok ke lembah kedukaan dan kesedihan yang dalam karena tidak satu halpun yang dapat aku perbuat untuk merubah semuanya. Dear, aku benar-benar terjatuh dan tidak ada sesuatu yang dapat aku pegang agar aku tidak terhempas ke dasar lembah yang begitu dalamnya.

Dear prudence, aku tidak bisa benar-benar membencinya agar aku bisa benar-benar matikan semua harapan yang tidak pernah mati dihatiku. Dear, aku ingin bisa ungkapkan semua perasaanku dengan segenap kebencian, tetapi aku tidak mampu karena aku begitu mencintainya, begitu menyayangi dan begitu berharap bahwa akulah satu-satunya yang terbaik buat dirinya. Dear prudence, keadaan seperti itu yang semakin menyakitkan hati ini. Aku ingin pura-pura ikhlas, tetapi aku tahu, itu hanya membohongi diri sendiri, karena aku sendiri tidak bisa benar-benar ikhlas matikan semua harapan dan tujuan yang ingin aku gapai bersamanya.

Dear prudence, aku inginkan kesadaran bahwa dia bukan untukku, aku ingin kesadaran bahwa dia tidak inginkanku, aku ingin kesadaran bahwa dia tidak mungkin menjadi milikku. Dear prudence... aku perlukan keyakinan bahwa dia selalu jujur padaku, bahwa dia tidak pernah sedikitpun permainkan hatiku, bahwa dia benar-benar inginkan aku, bahwa apa yang dipilihnya hanya untuk kebahagiaan dirinya, tidak untukku.