29 Juli 2008

Aku bukan siapa-siapa

Dear Prudence,
Kesedihan, kekecewaan dan kerinduan yang menyesakkan dadaku membuatku kembali menghubunginya... dan dear... aku senang dan bahagia sekali ketika kerinduan itu bersambut. Dear Prudence, tahukah engkau, betapa suka citanya aku saat itu dan kebahagiaanku membuatku lupa bahwa ternyata aku bukan siapa-siapa buatnya dan aku tidak bisa untuk berbuat apa-apa untuk dan terhadapnya.

Dear Prudence,
Aku terus berusaha sadarkan diriku bahwa aku bukan siapa-siapa dan coba redam semua kecemburuan yang timbul, coba redam dan matikan semua harapan yang tidak pernah bisa aku padamkan dan coba kubur dalam-dalam semua perasaan, cinta, kasih sayang, hasrat dan keinginanku kepadanya. Aku berharap dia dapat memberikan kesejukan padaku dengan sedikit perhatian, dengan kata-kata yang tidak menyakitkan... tapi dear... aku hanya bisa berharap dan berharap untuk semua itu.

Dear Prudence,
Masih adakah cinta murni atau cinta tanpa syarat di zaman yang materialistik dan hedonistik ini? Mestikah aku menderita karena semua ini? Haruskah aku menghiba mengharapkannya?
Apakah salah jika apa yang aku rasakan ini adalah Unconditional Love? An unlimited way of being? Salahkah?. Bukankah mencintai tanpa syarat adalah kekuatan terbesar yang ada pada manusia?
Apakah kecintaan itu harus didapat berdasarkan kondisi-kondisi sadar maupun tidak sadar yang dapat dipenuhi oleh sang kekasih?

Dear Prudence... aku memang bukan siapa-siapa dan aku tidak bisa apa-apa.